Kenali 4 Instrumen Dasar Investasi

Investasi Menggunakan Apa?


 

Pada saat kita berniat untuk investasi sebaiknya kita pahami dahulu mengenai instrumen-instrumen investasi. Tujuannya adalah agar kita bisa menentukan instrumen mana yang paling baik. Setidaknya, ada tiga instrumen dasar yang perlu kita pahami, yaitu deposito, obligasi, saham dan reksa dana.

 


 

 

Deposito

Deposito yang sering dimaksud umumnya adalah deposito berjangka (time deposit). investasi deposito dikeluarkan oleh bank. Di dalam sistem ini, kita (investor) memberikan pinjaman kepada bank dengan imbalan “bunga” atas nilai pokok yang kita pinjamkan kepada bank. Seandainya, saat ini, kita menempatkan deposito Rp100 juta selama satu tahun dan mendapatkan bunga sebesar 8% per tahun, berarti kita akan menerima hasil investasi sebesar Rp8 juta (sebelum pajak) dan pengembalian nilai pokok (nominal) sebesar Rp100 juta, satu tahun kemudian.
Dari mana bank dapat membayar bunga 8%? Dari deposito yang terkumpul, bank akan menyalurkan pinjaman (kredit) kepada dunia usaha (perusahaan) dan menerima pembayaran bunga kredit misalnya 15% per tahun. Selisih bunga yang diterima dari dunia usaha dan yang dibayarkan kepada deposan sebesar 7% (15%-8%) — sering disebut spread — merupakan sumber penghasilan bagi bank.
Sebagian besar masyarakat sudah sangat mengenal instrumen ini melalui perbankan.

 

Dengan tingkat suku bunga perbankan di Indonesia yang secara historis cukup tinggi serta risiko yang rendah membuat deposito menjadi pilihan investasi sebagian besar masyarakat. Namun, dengan adanya perbaikan ekonomi, tingkat suku bunga deposito akan terus menurun. Oleh karena itu, perlu juga kita mengetahui alternatif investasi lainnya selain deposito yang bisa memberikan tingkat hasil investasi yang lebih tinggi.


 

 

Obligasi

Instrumen investasi Obligasi mirip dengan deposito, namun investasi ini bukanlah produk perbankan. Obligasi biasanya diterbitkan oleh pemerintah ataupun perusahaan. Perbedaan umum antara kedua instrumen itu adalah dari jangka waktu jatuh tempo. Deposito berjangka pendek, sedangkan obligasi berjangka panjang. Selain itu, deposito tidak bisa diperdagangkan di pasar, sementara obligasi bisa.

Perusahaan membutuhkan dana yang besar untuk membiaya kegiatan usahanya. Selain dari modal yang dimiliki sendiri, ia sering membutuhkan pinjaman dari pihak lain, seperti bank. Perusahaan biasanya mempunyai alternatif lain untuk memperoleh pinjaman, yaitu dengan berutang kepada investor secara langsung. Instrumen (efek) utang yang digunakan, salah satunya, adalah obligasi.

Obligasi merupakan surat utang yang dibeli oleh investor. Perusahaan akan lebih menguntungkan berutang kepada investor melalui obligasi dibandingkan dengan berutang kepada bank. Mengapa?

Karena, perusahaan dapat membayar bunga yang lebih rendah daripada berutang kepada bank. Seandainya perusahaan menerbitkan obligasi, pada saat suku bunga kredit 15%, ia akan menawarkan obligasi kepada investor dengan “kupon bunga” (istilah bunga untuk obligasi) di bawah 15%.
Mengapa investor tertarik membeli obligasi? Karena, kupon bunga yang akan diterima akan lebih tinggi (misalnya 3%-5%) di atas bunga deposito. Tambahan ini wajar karena selain perlu melakukan analisis tantang perusahaan yang bersangkutan, investor perlu berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih panjang (lebih dari satu tahun), serta harus menerima risiko baik buruknya kinerja perusahaan tersebut.


 

 

Saham

Sebagian kecil masyarakat sudah mengenal Instrumen investasi saham dan berinvestasi di saham. Walaupun dipahami sebagai instrumen yang berisiko tinggi, saham juga menarik untuk dijadikan alternatif investasi karena memiliki potensi hasil yang juga tinggi. Bagaimana dasar penerbitan saham? Pemilik perusahaan, selain dari modal yang dimiliki sendiri dan berutang kepada bank (melalui kredit atau pinjaman) atau kepada investor (melalui obligasi) masih memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan usahanya, yakni dengan menjual sebagian kepemilikannya (sahamnya) kepada investor publik. Ini yang sering disebut perusahaan go public.

Perusahaan yang baik umumnya akan menghasilkan investasi yang lebih tinggi dari bunga pinjaman deposito atau bahkan bunga kredit. Mengapa? Karena, sebagian modal usahanya umumnya berasal dari pinjaman bank, sehingga ia perlu menghasilkan investasi yang lebih tinggi untuk mampu membayar pinjaman kepada bank. Selain itu, mendirikan dan mengoperasikan usaha memiliki risiko yang tinggi (misalnya kemungkinan bangkrut), sehingga wajar jika pengusaha akan berusaha sekuat tenaga memperoleh hasil investasi yang tinggi di atas bunga pinjaman.

Kita, sebagai investor, dapat ikut merasakan potensi keuntungan dari perusahaan dengan memiliki saham-saham perusahaan yang sudah go public. Namun, kita perlu bersiap juga menerima kemungkinan risiko yang timbul, layaknya sebagai pemilik perusahaan. Salah satu cara mengurangi risiko investasi di saham adalah dengan berinvestasi secara diversifikasi dan untuk jangka panjang.


 

 

Reksadana

Reksadana dalah sarana (vehicle) sebagai alternatif dari cara berinvestasi. Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 8 tentang Pasar Modal, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Reksadana dibentuk oleh manajer investasi dan bank kustodian melalui akta kontrak investasi kolektif (KIK) yang dibuat notaris. Manajer investasi akan berperan sebagai pengelola dana investasi yang terkumpul dari sekian banyak investor untuk diinvestasikan ke dalam portofolio efek, seperti T/D, SBI, obligasi, dan saham.

Sementara, bank kustodian akan berperan dalam penyimpanan dana atau portofolio milik investor serta melakukan penyelesaian transaksi dan administrasi reksadana. Reksadana merupakan sarana investasi bagi investor untuk dapat berinvestasi ke
berbagai instrumen investasi yang tersedia di pasar. Melalui reksadana, investor sudah tidak perlu repot mengelola portofolio investasinya sendiri.

Banyak instrumen investasi yang tersedia di pasar. Namun, kita sulit untuk berinvestasi ke dalam instrumen tersebut karena adanya
kendala. Dengan adanya reksadana, investor dapat memperoleh manfaat, antara lain:

  1. Akses ke dalam instrumen investasi yang beragam.
  2. Pengelolaan portofolio investasi yang profesional oleh manajer investasi dan bank kustodian
  3. Diversifikasi investasi dengan biaya yang rendah. Melalui dana yang terkumpul dari sekian banyak investor, reksa dana dapat berinvestasi ke berbagai jenis instrumen dari berbagai perusahaan.
  4. Likuiditas yang relatif tinggi. Dalam kondisi normal, reksa dana dapat dibeli dan dicairkan (dijual kembali) setiap hari kerja.
  5. Potensi hasil investasi yang tinggi dalam jangka panjang.
  6. Manfaat bebas pajak untuk instrumen investasi tertentu (saat ini investasi dalam obligasi).

Menarik bukan?, pada artikel berikutnya kami akan membahas lebih mendalam mengenai reksadana yang lebih menawarkan keuntungan manfaat daripada 3 instrumen dasar investasi yang disebut diatas. Apakah Anda setuju dengan kami? Sampaikan komentar Anda dibawah ini🙂

 

One thought on “Kenali 4 Instrumen Dasar Investasi

  1. Ping-balik: Panduan Investasi Reksadana - APBNNews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s