Asumsi Makro APBN-P 2015 telah disepakati DPR

Perekonomian dunia pada tahun 2015 diperkirakan mengalami ketidakpastian yang dipicu oleh perlambatan di berbagai negara terutama Tiongkok, melemahnya harga komoditas di pasar internasional, dan rencana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut memengaruhi perekonomian dalam negeri, seperti melambatnya pertumbuhan ekspor dan investasi yang berdampak signifikan terhadap beberapa jenis pendapatan negara dalam APBN tahun 2015. Sementara itu, melambatnya perekonomian domestik dalam tahun 2014 juga berdampak negatif terhadap realisasi pendapatan negara tahun 2014. Dengan demikian, melambatnya pertumbuhan ekspor dan investasi serta melemahnya harga komoditas akan berdampak signifikan terhadap beberapa asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN tahun 2015.

Akhir minggu lalu, Menteri Keuangan menyampaikan perubahan asumsi makro dalam rancangan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 yang telah disepakati oleh pemerintah dengan Panitia Kerja (Panja) A Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bersumber dari laman Kementerian Keuangan, Perubahan asumsi makro RAPBN-P 2015 tersebut disampaikan Menkeu dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR untuk menetapkan postur sementara APBN-P 2015 pada Jumat (06/02) di Jakarta.

Asumsi Makro 2015

ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO, 2009 – 2015
*) Sebelum tahun 2011 menggunakan suku bunga SBI3 bulan
**) Asumsi digunakan sejak tahun 2013

Pertumbuhan ekonomi menjadi 5,7 persen, atau 0,1 persen lebih rendah dibandingkan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dalam nota keuangan RAPBN-P 2015 yang sebesar 5,8 persen.

Asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disepakati melemah, yakni menjadi sebesar Rp12.500 per dolar AS. Sebelumnya, dalam nota keuangan RAPBN-P 2015, asumsi nilai tukar tercatat sebesar Rp12.200 per dolar AS.

Asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) juga mengalami penurunan menjadi 60 dolar AS per barel, dan asumsi lifting minyak diturunkan menjadi 825 ribu barel per hari, dari sebelumnya 849 ribu barel per hari.

Asumsi lifting gas mengalami peningkatan dari 1,17 juta barel per hari setara minyak menjadi 1,22 juta barel per hari setara minyak. Sementara, asumsi inflasi dan tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan masing-masing disepakati tetap pada 5 persen dan 6,2 persen.

 

Proyeksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah
Bersumber dari Nota Keuangan RAPBN-P 2015, pertumbuhan ekonomi selama periode 2016 hingga 2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 6,3 persen hingga 7,8 persen dengan kecenderungan terus meningkat. Faktor-faktor eksternal dan domestik akan menjadi pendorong kinerja pertumbuhan ekonomi.

Asumsi Makro Jangka Menengah 2016-2018

Asumsi Makro Jangka Menengah 2016-2018 – Nota Keuangan RAPBN-P 2015

Dari sisi eksternal, semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi global yang mulai tumbuh di atas 4,0 persen dan disertai peningkatan volume perdagangan berdampak pada membaiknya neraca perdagangan Indonesia. Dari sisi domestik, berbagai pelaksanaan program pembangunan infrastruktur dari kebijakan pengalihan subsidi akan mendorong peningkatan kegiatan investasi. Langkah-langkah tersebut juga akan mendorong perbaikan iklim usaha dan aktivitas investasi oleh pihak swasta dan pada gilirannya kapasitas produksi nasional.

Dari sisi konsumsi, struktur demografi masih menjadi modal dasar kuatnya konsumsi domestik. Selain itu, berbagai program sosial, antara lain Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan diharapkan akan mendorong naiknya daya beli masyarakat.

Terlebih apabila kolaborasi kebijakan pemerintah di bidang fiskal dan moneter yang baik akan menurunkan laju inflasi. Tingkat inflasi pada periode 2016-2017 ditetapkan pada kisaran 4,0 ± 1 persen menurun menjadi 3,5 ± 1 persen pada periode 2018.

Perkembangan nilai tukar rata rata selama periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran Rp12.150 hingga Rp11.650 per USD, dengan kecenderungan menguat bertahap. Pergerakan tersebut antara lain didorong oleh prestasi neraca perdagangan Indonesia, masuknya arus modal, baik Foreign Direct Investment (FDI) maupun portofolio, serta semakin menguatnya sumber-sumber pembiayaan domestik. Namun di sisi lain, peningkatan aktivitas investasi dan produksi masih mendorong peningkatan kebutuhan barang modal dan bahan baku impor. Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan apresiasi nilai tukar selama periode 2016-2018 tidak terlalu signifikan.

Seiring dengan menurunnya tekanan inflasi dan perbaikan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri, serta sentimen positif terhadap posisi fiskal yang semakin sehat telah menyebabkan minat investor terhadap instrumen obligasi pemerintah semakin baik. Selain itu, berkurangnya tekanan dari sisi global terkait perkiraan berakhirnya normalisasi kebijakan moneter di AS serta kebijakan moneter yang longgar di negara industri utama seperti Eropa dan Jepang menjadi faktor yang memengaruhi penurunan yield obligasi pemerintah, termasuk suku bunga SPN 3 bulan. Suku bunga SPN 3 bulan dalam periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 7,0 sampai dengan 4,5 persen dengan kecenderungan menurun.

Perkembangan harga ICP masih tetap dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia secara umum. Di tahun 2014, harga minyak dunia telah mengalami penurunan yang tajam antara lain dipengaruhi melemahnya permintaan global, serta peningkatan pasokan sumber energi minyak dan sumber energi alternatif lainnya, seperti shale oil and gas dan biodiesel. Seiring dengan mulai membaiknya permintaan global, maka pergerakan harga minyak dunia dan ICP diperkirakan relatif lebih stabil. Pada periode 2016-2018, harga ICP diperkirakan bergerak pada kisaran USD65 hingga USD100 per barel.

Masih dari Nota Keuangan RAPBN-P 2915, perkembangan lifting minyak mentah dan gas bumi diperkirakan cenderung menurun. Kecenderungan penurunan tersebut disebabkan oleh usia sumur-sumur migas yang semakin tua, serta belum adanya kepastian beroperasinya sumur-sumur baru. Secara umum lifting minyak mentah pada periode 2016-2018 diperkirakan bergerak pada kisaran 900 hingga 700 ribu barel per hari dengan kecenderungan menurun di tiap tahun. Di sisi lain lifting gas bumi diperkirakan bergerak pada kisaran 1.100 hingga 1.300 ribu barel setara minyak per hari dengan kecenderungan meningkat.


Salam Redaksi APBNNews.com – #KawalAPBN Kawal Pembangunan

One thought on “Asumsi Makro APBN-P 2015 telah disepakati DPR

  1. Ping-balik: Berapa Gaji Guru pada APBN-P 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s