Michael Theodric: Young Travel Photographer of the Year 2012

Belajar otodidak dari sang ayah, Michael Theodric kini menjadi fotografer cilik “profesional”. Karya fotonya sering mendapat penghargaan. Yang paling fenomenal, dia meraih Young Travel Photographer of the Year 2012.

 sumber: padangekspres.co.id oleh: Nauval Widi A.R

JARUM jam hampir menunjuk pukul 9 malam pada hari keempat Desember saat sebuah surat elektronik (e-mail) masuk di akunnya. Sejenak, Michael Theodric membacanya dengan sek­sama. Begitu tahu maknanya, wa­jahnya langsung berubah girang bukan kepalang.

Michael Theodric, Fotografer Cilik Peraih Young Travel Photographer of the Year 2012

Ya, e-mail dari panitia kompetisi yang bermarkas di London, Inggris, tersebut mengabarkan bahwa foto karya Mike—panggilan Michael Theodric—menjadi yang terbaik: Young Travel Photographer of the Year 2012 untuk kategori peserta di bawah 14 tahun. Para juri juga menilai Mike sebagai fotografer cilik berbakat dan potensial.

“Saya langsung lari-lari sambil teriak gembira di ruang tamu. Seru deh po­koknya,” ujar bocah 11 tahun itu ketika ditemui JPNN di Benton Junction, Karawaci, Tangerang, akhir pekan lalu (15/12).

Dalam kontes yang diikuti ribuan karya fotografer dari berbagai negara tersebut, empat karya Mike menjadi yang terbaik untuk kelompok usia di bawah 14 tahun. Empat foto itu berjudul Situ Bagendit, Bongkar Ru­ngkun, Fisherman, dan Raf­tman. Foto-foto tersebut me­nga­­lah­kan hasil jepretan Rebecca Dec­kmyn, 13, asal Belgia yang harus puas menjadi runner-up.

Keempat foto Mike bercerita tentang Situ Bagendit di Garut, Jawa Barat. Foto itu merekam kehidupan sehari-hari nelayan di sana. “Sesuai dengan temanya, places and faces,” kata Eko Wibowo Putra, sang ayah, yang mendampingi Mike.

Sebelum mengikuti lomba, Mike diajak ayahnya hunting foto di kawasan yang masih tampak asri dan orisinal ter­se­but. “Kami hunting bareng-ba­re­ng. Ramai-ramai. Ada EO (event organizer)-nya,” tambah Eko yang juga penghobi berat fotografi.

Berkat prestasinya itu, Mike memperoleh piagam beserta hadiah kamera Fujifilm XP150 dan Adobe Lightroom 4 Software yang bakal dikirimkan se­lambatnya Februari 2013. Kar­ya dia dan para pemenang lain­nya juga akan dipamerkan di Ro­yal Geographical Society, Lon­don, 12 Juli-18 Agustus 2013.

Prestasi yang diraih Mike pada pengujung tahun ini me­nam­bah panjang deretan peng­hargaan yang pernah dia rebut selama menggeluti hobi fotografi yang masih seumur jagung itu. Putra pasangan Eko Wibowo dan Ely Wijaya tersebut se­be­lumnya mendapat apresiasi sebagai highly commended pada Digital Camera World Young Photographer of the Year (2010), runner-up Atkins Young Photographer of the Year under-21 (2011), dan the honorable mention dalam ajang Salon Foto Indonesia XXXII Makassar (2011). Dia juga memperoleh the honorable mention pada PX3 Prix de la Photographie Paris serta runner-up Young Environmental Photographer of the Year (2012).

 Belum lama ini, Mike juga meraih juara III Children’s Eyes on Earth, International Youth Photography Contest 2012. “Itu kira-kira sebulan sebelum dapat Travel Photographer of the Year ini,” ungkap Eko, sang ayah, yang mendampingi Mike.

Menurut cerita Eko, anaknya bisa memotret lantaran sering diajak hunting foto. Dari situ, Mike yang saat itu berusia 8 tahun mulai ikut-ikutan me­mot­ret. Yang dijadikan objek adalah koleksi mainannya. “Awalnya memang lihat papa (memotret), lama-kelamaan jadi suka,” ung­kap Mike.

Selain otodidak, Mike belajar dari teman-teman ayahnya di Ko­munitas Fotografer Ta­nge­rang (KFT). Melihat per­kem­bangan anaknya seperti itu, Eko pun mulai mengarahkan. Saat Mike berulang tahun ke-8, Eko membelikan kamera Canon 500D sebagai koleksi perta­ma­nya. Sejak saat itu, Mike makin senang dengan dunia fotografi.

Tidak hanya saat hunting foto, siswa kelas VI Binus International School Serpong itu juga mulai akrab dengan seluk-beluk kamera. “Yang susah kalau pakai lensa panjang (tele). Pegang beberapa menit saja sudah pegel. Berat, soalnya,” ujar Mike seraya menyebut lensa tele 70-200 mm yang pernah dicobanya.

“Tapi, sekarang pakai tele sudah biasa. Nggak goyang lagi,” imbuhnya. Mike saat ini me­nyukai foto-foto landscape atau panorama. Meski diakui tidak bisa setiap saat menghasilkan foto-foto pemandangan itu. “Sebab, harus pergi satu dua hari. Itu yang agak jadi kendala. Tapi, hasilnya lebih bagus, lebih seru,” ujar Mike.

Dia menuturkan, memotret landscape harus siap capek. Misalnya, harus bisa bangun pagi untuk mendapat momen cahaya matahari terbit. Tidur atau istirahat di mobil juga pernah dilakoni.

“Capek, tapi hasil foto yang diperoleh lebih bagus,” ungkap pengidola fotografer inter­na­sio­nal Tyler Stableford itu.

Mike menceritakan pe­nga­lamannya hunting di Situ Gu­nung, Sukabumi, Jawa Barat. Sa­at itu, rombongan harus be­ra­ngkat tengah malam. Sampai di tujuan sudah subuh. Tak lama ke­mudian, mereka bisa me­ng­abadikan Morning at Situ Gu­nung yang akhirnya dino­batkan menjadi juara III Chil­dren”s Eyes on Earth. “Puas rasanya dapat foto yang bagus.”

Sejak 2011, Mike berganti kamera dari Canon 500D ke Canon EOS 7D. Namun, tidak jarang dia meminjam kamera Canon EOS 5D milik ayahnya. Untuk sehari-hari, dia tak per­nah lupa membawa kamera So­ny NEX-7 yang lebih ringan.

Mike yang bercita-cita men­jadi fotografer profesional itu selalu aktif dalam kegiatan KFT, meski menjadi anggota paling kecil. Tidak hanya berburu foto, dia juga mengikuti workshop untuk menambah pengetahuan, serta kemampuan dalam me­mot­ret. Tentu saja, pe­ma­ha­man­nya tentang fotografi jadi lebih mumpuni dibanding ke­ban­yakan anak-anak seusianya.

 Eko mengakui, meski sudah menyenangi dunia orang de­wasa, anaknya tetap anak-anak yang masih suka bermain-main. “Masih sama (seperti umumnya anak-anak, red). Malah lebih gila mainnya,” ujar Eko lantas ter­tawa.

Hanya, saat akan me­n­ja­lankan hobinya memotret, Mike selalu menunjukkan sikap se­rius. “Kalau saya lihat dari situ saja, so far, dia serius, mau capek. Jepretannya juga bagus,” kata Eko yang sehari-hari me­miliki kesibukan dalam bi­dang perdagangan saham tersebut.

 Dia menambahkan, meski men-support penuh, dirinya tidak mengarahkan Mike untuk mencari materi atau uang dari aktivitas memotretnya saat ini. Tapi, jika kelak Mike ingin menjadi fotografer profesional, itu urusan nanti.

“Sekarang ka­lau mau mot­ret, ya motret saja. Kalau ada kompetisi, kirim saja. Tidak untuk mencari ha­diah­nya, tapi mencari pe­nga­laman dan fun,” ungkapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s